Contoh Materi, Kendala dan Solusi Terapan PIK Remaja Juwiter - SENYUM MEREKA

Adiwiyata

Contoh Materi, Kendala dan Solusi Terapan PIK Remaja Juwiter

Kegiatan Positif Remaja
Pusat Informasi dan Konseling Remaja  (PIK- Remaja) Juwiter adalah salah satu program atau materi prioritas bagi anggota Ekstrakurikuler Jurnalisme Adiwiyata Bermitra (Juwiter).

Pada program ini, anak diarahkan secara mandiri, untuk mencari, mengelola, mengolah dan menebarkan inspirasi, motivasi dan kompetensi terkait Informasi dalam Pusat Informasi Kesehatan Anak dan Konseling Remaja.

Singkatnya PIK Remaja Juwiter dijalankan sebagaimana konsep Juwiter ;  untuk anak, dari anak, untuk anak, memiliki Sekolah ASLI (Aman, Nyaman, Sehat, Lestari).

Cara Kerja

  • Trainer Juwiter harus memahami bahwa banyak yang tidak mengenal PIK Remaja, termasuk kadang kepala sekolah. Padahal PIK Remaja adalah program penting untuk tumbung kembang wawasan anak.
  • Dalam menjalankan terapan PIK Remaja, Trainer Juwiter cukup berkoordinasi dengan Pembina Juwiter. Jika ada respo poistif dari pihak sekolah atau kepala sekolahnya baik, maka laksanakan acara khusus dengan mengundang pemateri dari BKKBN dan terkait.
  • Trainer Ekskul Juwiter menjelaskan PIK Remaja dan metode kompetensi terapannya
  • Trainer Ekskul Juwiter menjelaskan konsep dan kode etik wawancara / silaturrahmi / bermitra dengan Guru BK, Wali Kelas, guru-guru terkait Informasi penting bagi anak dan remaja soal materi PIK-Remaja.Trainer Ekskul Juwiter memberikan permakluman kepada Pembina Juwiter (Guru Internal di Sekolah) untuk memberikan pembinaan terkait kegiatan (Bisa dilaksanakan pada jam keluar main, atau pada saat jam mata pelajaran guru terkait) atau pada saat tertentu, tergantung gurunya.
  • Jika gurunya galak, dan tidak senang terhadap kompetensi siswanya, buang aja ke laut atau cari guru yang lebih hebat. Doakan guru non toleransi itu dapat hidayah.
  • Hasil Kegiatan dituangkan ke Majalah Dinding Sekolah atau bulletin sekolah
  • Kegiatan ini dilaksanakan minimal 1 kali dalam 3 bulan atau paling tepat menjelang liburan panjang sebagai antisipasi agar remaja bisa mawas diri terkait TRIAD KRR.

Baca Juga apa itu Triad KRR

Output PIK Remaja Juwiter 

Melalui metode ini, diharapkan ;

  • Anak terlatih, terbina, dan terdidik menjalin hubungan dengan guru bimbingan konseling dan para pakar terkait materi PIK-Remaja.
  • Anak terlatih, terbina, dan terdidik berkompetensi menggali pengetahuan secara otodidak tentang beragam hal terkait PIKR
  • Anak terlatih, terbina, dan terdidik berkompetensi saling melatih, membina, mendidik antar teman sebaya
  • Anak terlatih, terbina, dan terdidik berkompetensi Kerjasama Tim dan berorganisasi
  • Anak terlatih, terbina, dan terdidik berkompetensi menguasai materi PIK Remaja 


Materi Umum PIK Remaja Juwiter

Masa remaja merupakan masa peralihan dari anak-anak ke masa dewasa. Kehidupan remaja merupakan kehidupan yang sangat menentukan bagi kehidupan masa depan anak selanjutnya.

Masa remaja, oleh Bank Dunia disebut sebagai masa transisi kehidupan remaja. Transisi kehidupan remaja oleh Bank Dunia dibagi menjadi 5 hal (Youth Five Life Transitions). Transisi kehidupan yang dimaksud menurut Progress Report World Bank adalah:
  • Melanjutkan sekolah (continue learning)
  • Mencari pekerjaan (start working)
  • Memulai kehidupan berkeluarga (form families)
  • Menjadi anggota masyarakat (exercise citizenship)
  • Mempraktekkan hidup sehat (practice healthy life).

 Fokus PIK Remaja Juwiter adalah membina kehidupan remaja dalam mempraktekkan hidup secara sehat (practice healthy life). Empat bidang kehidupan lainnya yang akan dimasuki oleh remaja sangat ditentukan oleh berhasil tidaknya remaja mempraktekkan kehidupan yang sehat.

Sederhanyan, apabila remaja gagal berperilaku sehat, kemungkinan besar remaja yang bersangkutan akan gagal pada empat bidang kehidupan yang lain.

Dari data-data yang berkaitan dengan gambaran perilaku sehat remaja, khususnya yang berhubungan dengan risiko TRIAD KRR (Seksualitas, NAPZA, HIV dan AIDS), dikatakan bahwa sebagian remaja Indonesia berperilaku tidak sehat.

Perilaku tidak sehat tersebut seperti terlihat pada ulasan berikut (dari berbagai sumber):

SEKSUALITAS

  • Seks Pra Nikah
Berdasarkan Survey Kesehatan Reproduksi Remaja Indonesia (SKRRI, 2002-2003) didapatkan bahwa remaja mengatakan mempunyai teman yang pernah berhubungan seksual pada usia 14-19 tahun (perempuan 34,7%, laki-laki 30,9%), sedangkan usia 20-24 tahun (perempuan 48,6%, laki-laki 46,5%).

Dari penelitian yang dilakukan oleh Wimpie Pangkahila tahun 1996 terhadap 633 pelajar SLTA di Bali, didapatkan bahwa 27% remaja laki-laki dan 18% remaja perempuan mempunyai pengalaman berhubungan seks pra nikah.

Sedangkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Situmorang tahun 2001 didapatkan 27% remaja laki-laki dan 9% remaja perempuan di Medan mengatakan sudah melakukan hubungan seks.

Faktor yang paling mempengaruhi remaja untuk melakukan hubungan seksual (3 x lebih besar) adalah:
  • Teman sebaya yaitu mempunyai pacar;
  • Mempunyai teman yang setuju dengan hubungan seks pranikah;
  • Mempunyai teman yang mempengaruhi atau mendorong untuk melakukan seks pranikah (Analisa Lanjut SKRRI, 2003).

ABORSI

Berdasarkan data Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI, Rakyat Merdeka, tahun 2006) yang merujuk pada data Terry Hull dkk. (1993) dan Utomo dkk. (2001) didapatkan bahwa 2,5 juta perempuan pernah melakukan aborsi per tahun, 27% (± 700 ribu) dilakukan oleh remaja, dan sebagian besar dilakukan dengan cara tidak aman.

Sekitar 30-35% aborsi ini adalah penyumbang kematian ibu (307/100 ribu kelahiran) dan tercatat bahwa Angka Kematian Ibu (Mother Mortality Rate) di Indonesia adalah 10 kali lebih besar dari Singapura.

NARKOBA

Berdasarkan data BNN 2004, menunjukan bahwa 1,5% dari jumlah penduduk Indonesia (3.2 juta jiwa) adalah pengguna narkoba. Dari jumlah tersebut, 78% diantaranya adalah remaja usia 20-29 tahun.

HIV dan AIDS

Secara kumulatif jumlah kasus AIDS sampai dengan September 2009 sebesar 18.442 kasus. Berdasarkan cara penularannya secara kumulatif dilaporkan antara lain melalui heteroseksual 49,7%, IDU 40,7%, homoseksual 3,4%, perinatal 2,5%, transfusi darah 0,1%, dan tidak diketahui 3,7%.

Terdapat 4 golongan usia tertinggi terkait HIV dan AIDS yaitu
  • usia 20-29 tahun sebanyak 49,6%
  • usia 30-39 tahun 29,8%
  • usia 40-49 tahun 8,7%
  • dan usia 15-19 tahun 3,0%.
  • Perbandingan persentase kasus AIDS antara laki-laki dan perempuan adalah 74,5% : 25,5% atau 3 : 1.
Semoga bermanfaat.
Semangat Juwiter, Salam Motivasi, Salam Kompetensi

Baca Juga : Ciri-Ciri Tahapan PIK Remaja

Powered by Blogger.