Inspirasi dari dr Sembalun, Soal Banjir Bandang sampai Rinjani Medical Team - SENYUM MEREKA

Inspirasi dari dr Sembalun, Soal Banjir Bandang sampai Rinjani Medical Team



dr.Hadiat Maulia & Tim Medis Puskesmas Sembalun
dr. Hadiat Maulia. Itulah namanya. Di kalangan tenaga kesehatan (nakes) Lombok Timur, semua pasti mengenalnya. Karena kerap disebut saat pemberian reward. Hari Kesehatan Nasional 2016 kemarin pun demikian. Ia menjadi Dokter Teladan di jajarannya.
Dr. Hadiat Maulia juga merupkan seorang dokter yang sukses mengharumkan NTB di kancah Nasional karena mewakili provinsi berlogo kijang dan gunung rinjani ini. Ia menjadi wakil untuk tenaga kesehatan teladan dalam kategori tenaga dokter.
Keberhasilanya ke tingkat nasional tidak terlepas dari inovasi yang di hasilkan dalam rangka peningkatan kualitas pelayanan kesehatan di Lombok Timur khususnya di wilayah kerja puskesmas Sembalun yang berdampak pada peningkatan derajat kesehatan masyarakat.
Dr. Hadiat Maulia memulai karirnya sebagai seorang dokter, langsung ditempatkan di Puskesmas Sembalun, dengan status dokter PTTD (Pegawai Tidak Tetap Daerah). Dokter kelahiran Labuan Lombok, 13 November 1987 mulai bertugas di daerah dingin itu tanggal 16 Januari  2012 sampai saat ini.
Sembalun adalah salah satu kecamatan di kabupaten Lombok Timur. Secara penggolongan, sembalun merupakan salah satu daerah terpencil. Namun demikian, daerah ini tak kalah ramainya dengan kecamatan lain. Pasalnya, sembalun adalah salah satu daerah wisata yang ada di Kabupaten Lombok Timur.
Sembalun terletak di bawah kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani. Berada pada ketinggian 1.156 meter dari permukaan laut, membuat udara di kawasan ini sungguh terasa dingin, sangat berbeda dengan seluruh kecamatan lainnya yang ada di Lombok Timur. Dan Di Daerah inilah Putra asli Pringgebaya ini memulai karirnya sebagai seorang dokter.
dr.Hadiat Maulia dan Tim Rinjani Medical Team
Bekerja sebagai dokter daerah terpencil, kata Hadiat, mengharuskannya mampu beradaptasi dengan kondisi alam yang  begitu dingin, tak terkecuali dengan psikologi sosial  masyarakat setempat.
Diceritakannya, pengalaman pertama dalam dua bulan  penempatan di Sembalun, desa ini terkena bencana Banjir pada bulan maret 2012. Hal ini disebabkan oleh terjadinya hujan yang begitu lebat disertai angin kencang yang tidak berhenti terus menerus kurang lebih selama lima hari.
Pada saat itu, semua akses jalan yang menuju daerah Sembalun rusak terhantam banjir. Selain itu, persedian air bersih sangat sulit ditemukan, semua terendam banjir. Masyarakat sembalun banyak yang mengungsi ke tempat-tempat yang aman seperti musolla, Kantor Desa, Pustu, Puskesmas karna rumah mereka banyak yang rusak karna banjir. Dengan keadaan yang seperti ini, banyak masyarakat Sembalun yang mulai menderita penyakit seperti penyakit kulit, diare, ISPA (infeksi Saluran Napas Akut), dan lain-lain.
Melihat kondisi seperti ini, sebagai seorang dokter dan petugas kesehatan Puskemas di Sembalun berusaha memfasilitasi masyarakat semaksimal mungkin. Kami dari tim Puskesmas Sembalun membuat posko-posko pelayanan kesehatan disetiap desa yang ada di Sembalun. Selain itu, kami tim Pukesmas Sembalun berkordinasi langsung dengan Dinas Kesehatan Provinsi NTB dan Dinas Kesahatan Kabupaten Lombok Timur untuk memberikan informasi langsung keadaan masyarakat Sembalun waktu itu.
Akhirnya setelah di upayakan dengan kondisi seadanya, akses jalan  yang menuju ke Sembalun diperbaiki sehingga tim bantuan dari berbagai aspek dapat masuk ke daerah Sembalun. Selain itu, banyak teman-teman sejawat dokter bersama timnya datang memberikan fasilitas pelayanan kesehatan gratis.
Dengan peristiwa ini,  dapat belajar banyak.  harus mampu berkoordinasi lebih cepat jika hal seperti ini terulang kembali karna setiap terjadi musim hujan Sembalun mempuyai potensi terkena banjir setiap tahunnya. Sebelum bencana banjir tahun ini (tahun 2012), Sembalun juga pernah mengalami  bencana banjir tahun 2006.
dr. Hadiat Maulia dan Saya (Hehe)
Pengalaman kerja berikutnya selama berada di Puskesmas Sembalun secara umum hampir sama dengan dokter yang ada di Puskesmas yang lain yaitu melaksanakan program kesehatan seperti melakukan penyuluhan tentang PHBS, penyuluhan tentang Bahaya Rokok dan Narkoba, Kesehatan Reproduksi, Pemberian ASI Eksklusif, Pembentukan Kader Kesehatan Remaja, pembentukan Dokter Kecil, Screening Penyakit tidak menular dan lain-lain.
Berbeda dengan daerah biasa untuk menjalan program-program kesehatan seperti itu kami mendapat beberapa kendala diantaranya, topografi wilayah sembalun yang membuat jarak tempuh untuk sampai ketempat pemukiman penduduk begitu jauh.
Letak pemukiman penduduk disetiap desanya diselingi oleh hutan dan terdapat beberapa dusun yang letak sulit terjangkau karna akses jalan yang tidak memungkinkan rusak dan terjal. Penyuluhan tentang PHBS sangat penting di daerah Sembalun karna kondisi sanitasi lingkungan masyarakat di daerah ini masih sangat buruk. Masih sangat banyak masyarakat yang menggunakan kali untuk mandi, mencuci,dan buang air besar dalam satu tempat. 
Penataan pemukiman masih terlihat kumuh dengan irigasi hasil limbah rumah tangga yang tidak tertata. Dalam satu pemukiman masih ada yang membangun kandang hewan yang langsung bersebelahan dengan tempat tinggalnya.
 Selain itu masyarakat Sembalun masih sangat percaya dengan air yang berasal langsung dari mata air itu bersih jadi dapat langsung diminum tanpa dimasak terlebih dahulu. Selain itu, di desa tertentu terdapat persediaan air bersih sangat terbatas sekali sehingga terkadang penduduknya tidak bisa mandi dan mencuci selayaknya.
Hal-hal yang seperti ini merupakan beberapa contoh yang menggambarkan Pola Perilaku Hidup Bersih dan Sehat masyarakat di Sembalun masih sangat rendah. Penyuluhan tentang bahaya rokok, Narkoba dan Kesehatan Reproduksi sering kita lakukan yang sasaran lebih ditujukan untuk anak-anak remaja karna mereka lebih rentan untuk cenderung melakukan hal-hal  tersebut.
Anak remaja daerah Sembalun, umumnya sama dengan daerah yang lain namun mungkin pengetahuan mereka tentang hal tersebut masih sangat rendah. Banyak anak remaja yang baru lulus SLTP atau SLTA lebih memilih bekerja disawah dari pada melanjutkan sekolahnya. Hal ini yang membuat mereka memiliki tingkat pengetahuan yang rendah.
dr.Hadiat Maulia di Depan Alur Pelayanan
Puskesmas Sembalun
Pemberian ASI eksklusif di masyarakat Sembalun masih sangat rendah dan cara Pemberian MP-ASI dimasyarakat yang tidak sehat Hal ini sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti pengetahuan ibu yang rendah tentang ASI eksklusif dan pemberian MP-ASI, faktor pekerjaan masyarakat Sembalun yang mayoritas adalah petani dan kepercayaan masyarakat sembalun yang cenderung masih tradisional. Sehingga perlu dilakukan penyuluhan tentang ASI Eksklusif dan Pemberian MP-ASI yang benar dan sehat.
Selain itu, kami dari tim Puskesmas melakukan pembentukan kader kesehatan remaja dan pembentukan Dokter Kecil yang sasarannya pada para siswa yang masih sekolah. Diharapkan anak-anak ini mampu melakukan tindakan pertolongan pertama yang sederhana jika seseorang mengalami kecelakaan dan menderita penyakit tertentu sebelum dibawa ke Puskesmas.
Di berapa sekolah di Sembalun program ini berjalan dengan baik dengan memberdayakan UKS (Usaha Kesehatan Sekolah). Sekolah dapat membentuk dan memfasilitasi tim UKS nya. Selanjutnya, terdapat program Screening Penyakit Tidak Menular rutin kami lakukan setiap bulan di salah satu desa di wilayah Sembalun.
Program ini bertujuan untuk menurunkan angka morbiditas dan mortalitas penyakit tidak menular terutama penyakit tekanan darah tinggi (Hipertensi) di wilayah Sembalun. Penyakit Hipertensi di daerah Sembalun angka kejadiannya cukup tinggi dan beberapa kali kematian orang di wilayah sembalun diakibatkan oleh penyakit Stroke.
Program ini kami laksanakan dengan membuat balai pemeriksaan kesehatan di Dusun setempat. Setiap bulannya dilakukan pengukuran tekanan darah, berat badan (BB), lingkar perut, pemeriksaan gula darah dan melakukan wawancara terhadap faktor resiko yang menyebabkan terjadinya penyakit tersebut.
Masyarakat yang sudah di periksa dibuatkan cek list dan kartu kontrol hasil pemeriksannya. Cek list dan kartu kontrol tersebut di isi dan dikumpulkan kembali oleh petugas kesehatan. Setiap bulannya terus dilakukan follow up terdahap orang tersebut. Jika pada waktu pemeriksaan ditemukan orang yang menderita Hipertensi, maka orang tersebut langsung dirujuk ke Puskesmas untuk diberikan pengobatan.
dr. Hadiat Maulia dan Kepala Dinas Kesehatan, drg.Asrul Sani (Batik)
Orang-orang yang ditemukan menderita Hipertensi tersebut setelah mendapatkan pengobatan harus tetap dikonrol setiap bulannya supaya tidak terjadi kelaian dalam pengobatan.  Dengan melakukan kontrol yang demikian, diharapkan terjadi penurunan angka morbiditas dan mortalitas akibat penyakit Hipertensi di wilayah Sembalun.
Selain itu, di Puskesmas Sembalun  berinovasi membentuk Rinjani Medical Team (Tim Kesehatan Rinjani). Rinjani Medical Team merupakan tim kesehatan yang dirancang sebagai pendamping para wisatawan yang berkunjung ke Sembalun terutama saat mendaki Gunung Rinjani.
 Orang-orang yang ada di dalam tim ini berasal dari tenaga-tenaga kesehatan yang ada di Puskesmas Sembalun terdiri dari dokter, perawat dan bidan. Komitmen tim ini adalah “siap memberikan pelayanan kesehatan yang optimal bagi para wisatawan” yang berkunjung ke Sembalun terutama saat mendaki Gunung Rinjani.
Dengan adanya tim ini diharapkan dapat memberikan pelayanan kesehatan dan siap melakukan penanganan kegawatdaruratan jika terjadi kasus kecelakaan pada para wisatawan terutama saat mendaki gunung Rinjani.
Selain itu, Rinjani Medical Team ini selanjutnya akan berupaya memberdayakan masyarakat Sembalun terutama para Porter dan Guied  dengan cara memberikan pelatihan Penanggulangan Penderita Gawat Darurat supaya mereka mempuyai pengetahuan dan keterampilan dalam menangani kasus kegawatdaruratan terutama saat mendampingi para wisatawan mendaki Gunung Rinjani.
Rutinitas di Puskesmas Sembalun
 Tim ini juga berkomitmen supaya setiap para wisatawan mendapatkan pelayanan kesehatan yang optimal saat berkunjung ke Sembalun terutama saat mendaki Gunung Rinjani. Selain itu, Rinjani Medical Team berharap bisa berkoordinasi dengan baik dengan sektor-sektor terkait agar bisa menciptakan ” Rinjani Sehat dan Bersahabat” ke depannya.
Akhirnya, pengalaman-pengalaman seperti ini yang dapat  paparkan. Bekerja sebagai seorang dokter di daerah terpencil seperti ini memiliki suka dan duka. Semua itu harus dinikmati dan disyukuri. Bagi Hadiat Maulia,  profesi seorang dokter itu adalah sebuah anugrah dan pengabdian. “Pada akhirnya tujuan seorang dokter hanyalah untuk kemanusiaan,”semangatnya.
Powered by Blogger.