Materi 5 R dalam Program TRIAS UKS Juwiter, Memacu Sekolah Sehat. - SENYUM MEREKA

Adiwiyata

Materi 5 R dalam Program TRIAS UKS Juwiter, Memacu Sekolah Sehat.

Airi Kaneko Melatih Anak Sekolah Adiwiyata membuat Kompos
 Konsep  5 R berasal dari 5 kata dalam bahasa Inggris yaitu Reduce (Mengurangi), Reuse (Menggunakan kembali), Recycle (Mendaur Ulang), Replace (Menggunakan kembali) dan Replant (Menanam Kembali).

Materi saat ini hanya membahas Recycle. Recycle maksudnya mendaur ulang. Kegiatan dilaksanakan dengan mengolah kembali atau mendaur ulang sampah. 

Recycle bisa bermanfaat untuk menata atau memanfaat sampah menjadi lebih indah. Caranya menjadikannya pupuk kompos sebagai pupuk untuk tanaman yang ada di sekolah kita. Misalnya untuk Taman Obat Keluarga, Taman kelas, dan Taman sejenis yang ada di sekolah yang memprogramkan Ekskul Juwiter.



Pada perinsipnya, kegiatan ini memanfaatkan barang bekas dengan cara mengolah materinya untuk dapat digunakan lebih lanjut. Karena sampah jika di biarkan akan menimbulkan penyakit.

Dalam Recycle, Pengurus dan angggota Ekskul Juwiter memacu kebijakan sekolah untuk bisa memanfaatkan sampah sebagai pupuk kompos. Juwiter bisa bekerja sama atau meminta pembinaan guru Biologi atau Ilmu Alam dan para ahli terkait.

Sebelum mempraktikkan Recycle, sekolah juga seharusnya mempersiapkan tempat pemilahan sampah organik dan anorganik. Bisa bekerjasama dengan dinas atau badan atau Satuan Perangkat Kerja Dinas (SKPD) yang membidangi hal terkait.

Misalnya Kantor Kebersihan dan Tata Kota, Badan Lingkungan Hidup dan Yayasan-yayasan yang peduli soal sampah. 
Karena berbagai pengalamana, maka hal-hal yang bisa dilakukan untuk Recycle adalah
  1. Jika sekolah masih apatis, maka kerjasamalah dengan tukang kebun atau cleaning servis untuk disiapkan sampah dari tanam-tanaman.dan sampah rumah tangga, karena kasian jika hanya siswa yang berminat. Tapi lebih kasian lagi jika pengetahuan terkait tidak dibagikan ke ke pemilik Anggaran Sekolah.
  2. Jika semua apatis karena tidak ada dukungan kebijakan sekolah, maka cukup tulis inspirasi 5 R ini di Majalah Dinding Saja. Tapi yakin saja, pasti ada guru-gurunya yang hebat dan peduli disana. Ajak beliau mengurangi laporan fiktif sekolah.
  3. Tapi semoga dua hal tersebut tidak dialami, maka mulailah dengan : 
  • Mengumpulkan sampah organik (sampah yang mudah membusuk seperti sisa makanan, sayuran, daun-daun kering, dan sebagainya
  • Sampah tersebut di potong kecil-kecil. Yang sederhana aja. Namanya juga belajar 😊 Kesimpulannya adalah, untuk untuk membuat pupuk kompos alami sebenarnya ada di sekitar kita, alam sudah menyediakannya. 
  • Atau bisa juga dilakukan dengan cara pergi ke tempat pembuangan sampah.
  • Setelah berada di tempat pembuangan sampah, maka ambil tumpukan sampah yang ada kandungan tanahnya. Bisa minta bantuan ke Tukang Kebun atau Cleaning Service 💗 Shadakah atau berikan dia sumbangan, karena yakin dah honor mereka pasti kurang banget😛
  • Lakukan pemisahan antara bahan yang mudah lapuk dengan yang tidak mudah lapuk.
  • Setelah dipisahkan, lalu saring dengan menggunakan ayak.
  • Siapkan sekitar 50 hingga 100 gram belerang lalu taburkan di atas hasil ayakan tadi.

    Bahan Pembuatan Pupuk Kompos    
Setelah melakukan langkah diatas maka siapkan bahan untuk pembutannya.
  • Siapkan 2 1 /4 hingga 4 m3 sampah yang mudah lapuk, sangat di sarankan menggunakan sampah organik basah.
  • Siapkan kulit buah kopi kira2 6,5 m3 (alternatif pengganti kulit kopi bisa menggunakan daun lamtoro)
  • Siapkan kotoran ternak mamah biak sebanyak 750 kg (atau sekitar ± 50 kaleng ukuran 20 liter)
  • Siapkan 30 kg abu kayu atau abu dapur.

    Cara Membuat Pupuk Kompos
    • Langkah pertama siapkan bak dari semen untuk pengomposan. Perlu di perhatikan untuk desain baknya  harus memiliki dasar yang cekung dengan ukuran 2.5 x 1 x 1 m (p x l x t).
    • Selanjutnya campur semua bahan diatas ke dalam box pengomposan lalu aduk hingga merata. Kemudian taburi bagian atas adonan bahan tadi dengan abu kayu.
    • Setelah itu tutup bagian atas bak pengomposan menggunakan plastik transaparan, hal ini juga berfungsi untuk menampung nitrogen yang di hasilkan dari proses pengomposan. Setelah kira2 4-5 hari siramkan hasil tampungan nitrogen tadi, hal ini di maksudkan untuk enambah kandungan nitrogen pada adonan bahan agar proses pengomposan bisa lebih cepat.
    • Lakukan step 3 hingga 2 atau 3 minggu secara rutin, setelah itu aduk kembali adonan agar merata dan ulangi step 3 lagi.
    • Terus lakukan step diatas hingga kira2 2-3 bulan agar adonan benar-benar matang, dalam step ini pupuk seharusnya sedikit berair.
    •  Setelah 2-3 buan tadi angkatlah adonan karena sudah siap jadi, dan lakukanlah pengeringan dengan cara menjemur kompos hingga kadar airnya kira-kira 50 -60 % saja.
    •  Pupuk kompos siap di gunakan.
    • sampah,  Sampah yang terpotong kecil dicampur dedak 1 kg hingga rata.
Cara- cara tersebut, dari awal sampai akhir pada dasarnya sulit bisa dijalankan mandiri oleh siswa. Bukan kerjaan siswa juga 😈. Itulah sebabnya 'penting' kepala sekolah yang hebat.

Menejer sekolah yang visioner pasti akan mendesign kebijakan dengan pola MBS. Diantara yang bisa dilaksanakan adalah memberikan Surat Keputusan untuk menugaskan kariyawan / wati /bapak/ibu/guru terkait pembinaan lingkungan sekolah sehat, dengan salah satu tugas soal sampah.
Lalu peran anak-anak Juwiter disini apa? ya nerima haknya untuk mendapatkan ilmu, pengembangan diri, olah bakat, olah minat dong terkait 9 prioritas program memacu sekolah ASLI (aman, nyaman,sehat, lestari) menuju sekolah adiwiyata. 💥
Dewan Pembina Juwiter, HLM.Nursalim,S.Pd,M.Si
ketika bersama Airi Kaneko

Powered by Blogger.